ALT_IMG

Hobby Membaca ??

Seringkali saya ditanya, apa hobi anda? paling mudah saya jawab, membaca! tapi akhir2 ini saya merasa ga enak hati kalau mengingatnya. Sebenarnya apa ukuran sesuatu disebut sebagai hobby?Readmore...

ALT_IMG

menatap cakrawala

Salah satu hal yang paling menyenangkan dan mendamaikan adalah melihat cakrawala, saat dimana pandangan hanya dibatasi garis tipis lurus diujung sana yang disebut cakrawala Readmore..

Alt img

Bersemilah Ramadhan

Romadhon adalah nikmat yang luar biasa bagi siapa yang menemuinya, maka sudahkah anda bersyukur atas nikmat tersebut dan menggunakannya sebaik mungkin?Readmore...

ALT_IMG

Kepolosan yang Mendamaikan

Siapapun tidak cuma saya pasti akan senang jika melihat anak kecil, berbagai tingkah lakunya bisa membuat tertawa, tahukah anda kenapa bisa seperti itu Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

24.8.12

Setelah Ramadhan Meninggalkan Kita

0 komentar

Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, dan bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan berlalu sudah. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang celaka karena tidak mendapatkan pengampunan dari Allah selama bulan Ramadhan, sebagaimana yang tersebut dalam doa yang diucapkan oleh malaikat Jibril dan diamini oleh Rasulullah: “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah)”[1].

Salah seorang ulama salaf berkata: “Barangsiapa yang tidak diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadhan maka tidak akan diampuni dosa-dosanya di bulan-bulan lainnya”[2].

Oleh karena itu, mohonlah dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar Dia menerima amal kebaikan kita di bulan yang penuh berkah ini dan mengabulkan segala doa dan permohonan ampun kita kepada-Nya, sebagaimana sebelum datangnya bulan Ramadhan kita berdoa kepada-Nya agar Dia mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan hati kita kita dipenuhi dengan keimanan dan pengharapan akan ridha-Nya. Imam Mu’alla bin al-Fadhl berkata: “Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka (kerjakan)”[3].

Lalu muncul satu pertanyaan besar dengan sendirinya:

Apa yang tertinggal dalam diri kita setelah Ramadhan berlalu? Bekas-bekas kebaikan apa yang terlihat pada diri kita setelah keluar dari madrasah bulan puasa?

Apakah bekas-bekas itu hilang seiring dengan berlalunya bulan itu? Apakah amal-amal kebaikan yang terbiasa kita kerjakan di bulan itu pudar setelah puasa berakhir?

Jawabannya ada pada kisah berikut ini:

Imam Bisyr bin al-Harits al-Hafi pernah ditanya tentang orang-orang yang (hanya) rajin dan sungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan, maka beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang sangat buruk, (karena) mereka tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan, (hamba Allah) yang shaleh adalah orang yang rajin dan sungguh-sungguh beribadah dalam setahun penuh”[4].

Demi Allah, inilah hamba Allah yang sejati, yang selalu menjadi hamba-Nya di setiap tempat dan waktu, bukan hanya di waktu dan tempat tertentu.

Imam asy-Syibli pernah ditanya: Mana yang lebih utama, bulan Rajab atau bulan Sya’ban? Maka beliau menjawab: “Jadilah kamu seorang Rabbani (hamba Allah yang selalu beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan tempat), dan janganlah kamu menjadi seorang Sya’bani (orang yang hanya beribadah kepada-Nya di bulan Sya’ban atau bulan tertentu lainnya)”[5].

Maka sebagaimana kita membutuhkan dan mengharapkan rahmat Allah di bulan Ramadhan, bukankah kita juga tetap membutuhkan dan mengharapkan rahmat-Nya di bulan-bulan lainnya? Bukankah kita semua termasuk dalam firman-Nya:

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيد}

“Hai manusia, kalian semua butuh kepada (rahmat) Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Faathir: 15).

Inilah makna istiqamah yang sesungguhnya dan inilah pertanda diterimanya amal shaleh seorang hamba. Imam Ibnu Rajab berkata: “Sesungguhnya Allah jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal shaleh setelahnya, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka (ulama salaf): Ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu merupakan pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama (oleh Allah), sebagaimana barangsiapa yang mengerjakan amal kebakan, lalu dia dia mengerjakan perbuatan buruk (setelahnya), maka itu merupakan pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal kebaikan tersebut”[6].

Oleh karena itulah, Allah mensyariatkan puasa enam hari di bulan Syawwal, yangkeutamannya sangat besar yaitu menjadikan puasa Ramadhan dan puasa enam hari di bulan Syawwal pahalanya seperti puasa setahun penuh, sebagaimana sabda Rasululah: “Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh”[7].

Di samping itu juga untuk tujuan memenuhi keinginan hamba-hamba-Nya yang shaleh dan selalu rindu untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan puasa dan ibadah-ibadah lainnya, karena mereka adalah orang-orang yang merasa gembira dengan mengerjakan ibadah puasa. Rasulullah bersabda: “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah”[8].

Inilah bentuk amal kebaikan yang paling dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah Sholallohu'alaihi wasallam bersabda: “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah I adalah amal yang paling terus-menerus dikerjakan meskipun sedikit”[9].

Ummul mu’minin ‘Aisyah berkata: “Rasulullah jika mengerjakan suatu amal (kebaikan) maka beliau akan menetapinya”[10].

Inilah makna istiqamah setelah bulan Ramadhan, inilah tanda diterimanya amal-amal kebaikan kita di bulan yang berkah itu, maka silahkan menilai diri kita sendiri, apakah kita termasuk orang-orang yang beruntung dan diterima amal kebaikannya atau malah sebaliknya.

{فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الأبْصَارِ}

“Maka ambillah pelajaran (dari semua ini), wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat” (QS al-Hasyr: 2).

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Kendari, 6 Ramadhan 1433 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni
[1] HR Ahmad (2/254), al-Bukhari dalam “al-Adabul mufrad” (no. 644), Ibnu Hibban (no. 907) dan al-Hakim (4/170), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani.
[2] Dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 297).
[3] Dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).
[4] Dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 313).
[5] Ibid.
[6] Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 311).
[7] HSR Muslim (no. 1164).
[8] HSR al-Bukhari (no. 7054) dan Muslim (no. 1151).
[9] HSR al-Bukhari (no. 6099) dan Muslim (no. 783).
[10] HSR Muslim (no. 746).
Continue reading →
15.8.12

Idul Fitri Sebentar Lagi

0 komentar
taqabalallahu idul fitri


Tak terasa, hari sudah memasuki hari ke-26 ramadhan, artinya 3 atau 4 hari lagi, hari raya idul fitri akan tiba.
Maka, di sisa hari-hari ramadhan terakhir ini, mari tetap dan tingkatkan semangat beribadah, jangan sebaliknya, semakin berkurang ibadahnya, karena mungkin sudah sibuk bersiap-siap menyambut idul fitri.
Continue reading →
31.7.12

Membunuh atau Terbunuh oleh Waktu

0 komentar
jam pasir
Berikut ini adalah nasehat dan renungan terkait dengan waktu, waktu yang sering kita sia siakan, waktu yang sering kita buang percuma, waktu yang seringkali kita dibuat bingung olehnya bagaimana membunuh waktu itu, waktu yang tanpa sadar "membunuh" kita..

Sesungguhnya waktu merupakan hal-hal yang semua manusia sama di hadapannya. Maka waktu yang ada padamu seperti waktu yang ada pada al-Imam Ibnul Jauzi misalnya, yang dia pernah berkata tentang dirinya: “Telah kutulis dengan kedua jariku ini dua ribu jilid buku, dan telah bertaubat melalui tanganku seratus ribu orang, serta telah masuk Islam melalui tanganku dua puluh ribu Yahudi dan Nasrani.”

---


Bagaimanakah caranya untuk merealisasikan keinginan-keinginan atau tujuan kita dalam waktu yang sesingkat singkatnya dan dengan usaha yang seminim minimnya?!

Untuk mewujudkan keinginan atau tujuan-tujuan tersebut , anda harus mengusai waktu:

Di dalam diri setiap kita sering berkecamuk kata-kata “aku ingin menjadi……” Ungkapan itu selalu berawal dari sesuatu yg besar kemudian tidak lama setelah itu berangsur-angsur hilang. Maka apa sebab semua cita-cita atau impian kita tidak berubah menjadi sebuah kenyataan yang bisa disentuh?!

Sesungguhnya, agar tujuan itu bisa tercapai, sebaiknya harus dibatasi dari sisi ukuran dan waktu, karena keinginan dan waktu dua hal yang tidak bisa dipisah satu sama lain, tidak mungkin untuk merealisasikan yang satu dengan mengesampingkan yang lain.

Maka seseorang yang membatasi keinginan/cita-cita dalam hidupnya, dialah satu-satunya orang yang mampu mengatur waktunya secara cakap dan profesional, yang mewujudka keinginannya sejauh manfaat yang bisa dia ambil dari tujuannya tersebut. Pada sisi lain orang yang membatasi tujuan/keinginanya haruslah memiliki titik permulaan dan titik penghabisan dengan cara meletakkan rentang waktu tertentu dalam proses perwujudan tujuan-tujuan itu.

Dr. Ibrohim al-Fiqi mengatakan: “Tujuan anda harus memiliki bingkai waktu, karena dengan waktu itu anda dapat merealisasikan tujuan-tujuananda.” Tidaklah terlalu berlebihan dalam hal ini, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan kepada kita dalam kitab-Nya yang mulia, bahwa Dia telah memberi batasan tujuan untuk kita yaitu “masuk surga”, kemudian memberi batasan waktu yang memungkinkan kita untuk mewujudkan tujuan itu di dalamnya, yaitu: dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (١٠)

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang diantara kamu.” (al-Munafiqun: 10)

Maka apabila tujuan yang sangat besar dalam kehidupan yaitu masuk surga tidak akan terwujud kecuali melalui jangka waktu yang terbatas maka bagaimana dengan tujuan-tujuan yang lainnya?!

Jadi, setiap orang yang meletakkan cita atau tujuan dalam dirinya haruslah membatasinya dengan waktu tertentu. Maka tujuan atau cita-cita yang tak memiliki bingkai waktu tidak lain hanyalah impian-impian kosong. Jika kita menyetui hal itu maka kita harus bisa menjawab pertanyaan yang mengambang di permukaan secara langsung, yaitu:

“Apakah kita memiliki waktu yang cukup untuk mewujudkan tujuan/cita-cita kita?!”

Kita memiliki semua waktu yang kita butuhkan

Sesungguhnya pikiran bahwa manusia telah menginvestasikan seluruh waktu mereka adalah tidak benar sama sekali, sebagaimana keluhan habisnya waktu atau kurangnya waktu merupakan usaha atau sikap yang sia-sia atau tidak produktif serta membuang waktu dan tenaga dengan percuma. Maka setiap orang memiliki 24 jam dalam sehari atau 1.440 menit pas, tidak lebih dan tidak kurang. Terkadang anda berharap untuk memiliki waktu tambahan lebih banyak dari waktu yang ada pada anda. Apa anda kira ini mungkin?

Sesungguhnya waktu merupakan hal-hal yang semua manusia sama di hadapannya. Maka waktu yang ada padamu seperti waktu yang ada pada al-Imam Ibnul Jauzi misalnya, yang dia pernah berkata tentang dirinya: “Telah kutulis dengan kedua jariku ini dua ribu jilid buku, dan telah bertaubat melalui tanganku seratus ribu orang, serta telah masuk Islam melalui tanganku dua puluh ribu Yahudi dan Nasrani.”

Waktu yang ada pada anda juga sama dengan yang ada pada al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari yang menetap selama 40 tahun dalam keadaan menulis setiap hari 40 lembar sehingga beliau rahimahullah telah menulis jumlah yang mendekati 584.000 lembar.

Waktu yang ada pada anda juga sama dengan yang ada pada Ibnu al-Haitsam, Ibnu an-Nafis, Newton, Einstein dan lain lain.

Setiap orang memiliki waktu itu sendiri, akan tetapi siapakah yang mau mengeksploitasi/memanfaatkan waktu yang ada padanya?!

Waktu akan hilang atau diluangkan akan tetapi selamanya tidak akan tersimpan

Dari sinilah perhatian Salafu ash-shaleh terhadap waktu amat besar. Al-Imam Ibnu al-Jauzi pernah berwasiat dalam salah satu wasiat dari wasiat-wasiatnya yang sangat berharga yang terhimpun dalam risalahnya yang sangat berkualitas “Risalah ila Waladi (pesan untuk anakku) ”. Dalam sebuah wasiat yang beliau tulis untuk anaknya, Abul Qosim Badruddin, beliau berpesan: “Ketahuilah bahwa hari-hari menghamparkan waktu, dan waktu membentangkan nafas-nafas, dan setiap nafas adalah tempat penyimpanan, maka berhati-hatilah jangan sampai nafas melayang tanpa sesuatu, maka engkau akan melihat pada hari kiamat tempat penyimpanan yang kosong lalu kau menyesal.”

Para Salaf pernah bertutur: “Salah satu dari tanda kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tersia-siakannya waktu.”

Mereka juga pernah mengatakan: “Waktu adalah pedang, jika engkau tidak memotongnya maka dialah yang memotongmu.”

Ungkapan bervariasi namun maknanya tetap satu yaitu: “Malam dan siang bergerak cepat berbuat terhadapmu, maka berbuatlah terhadap mereka berdua.”

Tujuan haruslah mempunyai batasan waktu, dan waktu berada diantara orang yang meluangkan waktu dan menyia-nyiakannya. Maka yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimanakah kita meluangkan waktu untuk mewujudkan tujuan dan meraih cita-ita kita?

Untuk meluangkan menit-menit anda harus membuat perencanaan

Tidak ada cara untuk meluangkan menit-menit tersebut yang paling baik kecuali dengan perencanaan.

Apakah anda mengetahui bahwa setiap menit yang kita pergunakan dalam perencanaan berarti memperkecil waktu yang dibutuhkan rata-rata 1 sampai 4 menit? Apabila anda menghabiskan waktu 10 menit berarti waktu dihemat sekitar 30 sampai 40 menit, apabila engkau menghabiskan waktu 1 jam maka engkau menghemat waktu mendekati 3 sampai 4 jam.

Dan selanjutnya mungkin engkau akan dapat mengontrol 15 menit dari perencanaan dengan efesiensi kerja sehari penuh.

Kebanyakan apa yang dikatakan orang-orang bahwa perencanaan hanya membuang waktu, maka saya katakan kepada anda jika anda yakin bahwasanya anda tidak memiliki waktu untuk membuat perencanaan maka ketahuilah bahwa perencanaan memberimu tambahan waktu dan letakanlah selalu hikmah ini di depan kedua matamu: Apabila engkau menghabiskan menit-menit dengan bijaksana, maka jam-jam dan hari-hari akan bermakna dengan sendirinya

sumber :

http://blog.bursamuslim.com/bagaimana-merencanakan-kehidupan-anda/
Continue reading →
25.7.12

Ramai-ramai Ambil Cuti

0 komentar
Repost, artikel saya beberapa tahun lalu, kayaknya relevan sama saat-saat kayak gini, puasa menjelang idul fitri, saat orang mulai sibuk menyiapkan mudik lebaran. Hal pertama yang harus diurus menjelang mudik adalah cuti, karena setelah surat cuti di tangan, bisa terus bergerak untuk nyari tiket dlsb.

--



Beberapa hari ini kesibukan di bagian kepegawaian meningkat, pasalnya banyak pegawai yang mulai mempersiapkan diri untuk ngambil cuti tahunannya. Sebentar2 telpon berdering dari orang yang menanyakan sisa cutinya masih berapa, ada juga yang nanyain gimana sih cara ngajuin cuti?, boleh berapa hari cutinya? Dan beragam pertanyaan sejenis seputar cuti.

Sebenarnya sih berdasarkan kalender, untuk lebaran ini, udah ada libur satu minggu. Tapi kenyataannya masih banyak orang yang ngajuin cuti. Bermacam2 alasannya, ada yang bilang mudiknya jauh, mau berkunjung ke saudara2 dulu, mau ini mau itu kan setahun sekali…, yah begitulah.

Bagi yang mau tahu lebih jauh mengenai ketentuan2 seputar cuti (tahunan) berikut ini saya kasih poin2 nya dan met mudik, ati2 di jalan, jangan lupa oleh2nya…

  • Calon PNS/PNS yang telah bekerja secara terus-menerus selama satu tahun berhak atas cuti tahunan. Lamanya cuti tahunan bagi calon PNS/PNS adalah dua belas hari kerja dan dipecah-pecah sekurang-kurangnya tiga hari kerja.
  • Cuti tahunan yang tidak diambil dalam tahun yang bersangkutan, dapat diambil dalam tahun berikutnya untuk paling lama 18 (delapan belas) hari kerja termasuk cuti tahunan dalam tahunyang sedang berjalan.
  • Cuti tahunan yang tidak diambil 2 (dua) tahun berturut-turut atau lebih dapat diambil dalam tahun berikutnya untuk paling lama 24 (dua puluh empat) hari kerja termasuk cuti tahunan tahun yang sedang berjalan.
  • Cuti tahunan yang tidak diambil secara penuh dalam tahun yang bersangkutan, dapat diambil dalam tahun berikutnya untuk paling lama 18 (delapan belas) hari kerja termasuk cuti tahunan tahun yang sedang berjalan.
  • Cuti tahunan yang tidak diambil secara penuh dalam beberapa tahun, dapat diambil dalam tahun berikutnya untuk paling lama 24(dua puluh empat) hari kerja termasuk cuti tahunan tahun yang sedang berjalan.
  • Cuti tahunan yang akan dijalankan di tempat yang sulit perhubungannya, jangka waktu cuti tahunan ditambah 14 (empat belas) hari termasuk hari libur. Ketentuan ini tidak berlaku bagi cuti tahunan yang diambil kurang dari 12 (dua belas) hari kerja.
  • Cuti tahunan hanya dapat ditunda selama-lamanya satu tahun. Cuti tahunan yang ditunda pelaksanaannya oleh pejabat yang berwenang memberikan cuti dapat diambil selama-lamanya 24 (dua puluh empat) hari kerja termasuk cuti tahunan tahun yang sedang berjalan.
  • Jika dalam waktu bersamaan PNS mengambil cuti tahunan, maka hanya diperkenankan 5 % dari pegawai yang ada boleh cuti, agar pekerjaan tidak terganggu.
Continue reading →
24.7.12

FB vs The Holy Book

0 komentar
Hari ini di fb banyak dishare gambar berikut ini :

fb vs quran

Simple tapi cukup menohok, bagi seorang muslim tentunya.
Saya tidak akan bertanya apa jawaban anda, biarlah hati anda yang menjawabnya.

Sungguh menyedihkan melihat kenyataan yang ada, sebagai seorang muslim, kita ternyata masih sangat jauh dengan buku induk kita. Sebuah "manual book"yang datang dari Sang Pencipta kita, Allah Rabbul 'Alamin. Sebuah kitab yang berisi petunjuk hidup, pedoman hidup.

Maka sudah sepantasnya, bulan ramadhan ini kita jadikan momentum untuk memperbaiki diri, salah satunya dengan banyak-banyak membaca Al Quran dan mentaddaburinya, karena ramadhan adalah syahrul qur'an.
Continue reading →